Assalamu'alaikum, Salam Hijrah Salam Perubahan
Sahabat, sudahkah kita melihat ke belakang, setahun telah berlalu apa yang telah kita lakukan untuk diri dan keluarga kita???
Sahabat, sudahkah kita melihat hari ini, apakah hari ini lebih baik dari kemarin???
Sahabat, sudahkah kita merencanakan hari esok, apakah kita telah merencanakan esok lebih baik dari sekarang???
kata orang, hari yang telah berlalu adalah sejarah. sejarah memiliki hikmah besar dalam segala bentuk dimensi ruang dan waktu, "Sesungguhnya dalam setiap kisah (sejarah) ada hikmah". kita memang tak mungkin kembali ke belakang, apapun yang telah terjadi hanya dapat diambil hikmahnya. apapun kesalahan yang telah kita lakukan di masa lalu tak akan berubah dari sisi peristiwa. namun, spirit mengenyahkan kesalahan akan terus membara seiring semangat hijrah yang kita lakukan. bukankah hijrah adalah bergerak ke arah kemaslahatan???
Sahabat, sang Rasul mulia memiliki spirit perubahan hingga Beliaupun berhijrah dan kuyakin satu diantara jutaan pengikutnya yang ber'ittiba padanya adalah Engkau sahabatku.
"Sahabat, mari sambut 1430 H dengan semangat perubahan"
Alhamdulillah
Tiada kata indah selain syukur pada yang Maha Indah, Allah, Alhamdulillah.
Ya Allah, Alhamdulillah wa Syukurillah, celoteh itu mulai ramai mengisi hari-hari kami kembali
Ya Allah, Alhamdulillah wa Syukurillah, celoteh itu mulai menghiasi relung-relung jiwa yang mendengarnya
Ya Allah, Alhamdulillah wa Syukurillah, thanks Allah
Ya Allah, Alhamdulillah wa Syukurillah, celoteh itu mulai ramai mengisi hari-hari kami kembali
Ya Allah, Alhamdulillah wa Syukurillah, celoteh itu mulai menghiasi relung-relung jiwa yang mendengarnya
Ya Allah, Alhamdulillah wa Syukurillah, thanks Allah
Ya Rabb, Kembalikan Celotehnya
Dua hari sudah ku tak mendengar celotehnya. Dua hari sudah Mafaza, sang buah hati kami belum merasakan kembali faza (keberuntungan, seperti namanya, dari sisi kesehatan. Dua hari, bagi orang lain mungkin belum seberapa tetapi bagi diriku, terlebih istriku, ada yang hilang dalam warna-warni kehidupan, ada kesunyian dalam spirit kebesaran sang Kuasa yang sering teruntai dari bibirnya yang kecil merona.
Allah, sedang dekat denganmu wahai putriku.
Allah, sedang saya......ng..sama mafaza.
Allah, sedang mentarbiyah (mengajarkan) kita.
Allah, Engkaulah yang Maha Perkasa.
Ya Rabb, angkatlah penyakitnya.
Ya Rabb, kembalikanlah celotehnya.
Raih Kesuksesan Sekarang Juga
Saudaraku, Setiap kita ingin meraih kesuksesan, hidup bahagia. Namun, semua keinginan termasuk meraih kesuksesan sebagian besar dari kita lupa untuk menyiapkan tangga-tangga kesuksesan tersebut. Sebenarnya, modal pertama telah kita miliki untuk meraih sukses yaitu keinginan. keinginan adalah niat awal yang memiliki spirit besar jika kita benar-benar memberikan sentuhan kekuatan dan energy positif pada niat tersebut. bukankah segala amal tergantung niatnya? bukankah niat hidup sukses adalah hal baik? bukankah niat yang baik mendapatkan satu kebaikan walaupun belum merealisasikannya?
Saudaraku, Kita telah memiliki kekuatan niat maka mari kita realisasikan niat tersebut. "Faidza 'azamta fa tawakkal 'alallah". Kita telah memiliki senjata Doa maka mari berdoa dengan khusu' dan renungkan setiap permohonan kita: "Rabbanaa Aatinaa fi Dunya HASANAH wa fil Aakhirati HASANAH" Kita telah memiliki sang Penjamin yang Pasti menepati janji-Nya maka mari merealisasikan dalam langkah nyata; "fa Inna ma'al 'usri yusra, Inna ma'al usri yusra" Sesungguhnya dalam setiap kesulitan ada kemudahan.
Saudaraku, yakinlah betapa besar kesuksesan yang kita inginkan, sebuah kesuksesan yang hanya dimiliki oleh jiwa-jiwa penuh pengharapan dan ketakutan, jiwa-jiwa yang mendambakan kesuksesan hakiki,kesuksesan terindah lagi mulia, kesuksesan dunia dan akhirat.
Saudaraku, Sang Pemberi Kesuksesan begitu mencintai orang-orang yang mendambakan kesuksesan. Dia senantiasa mengingatkan kita di tengah-tengah aktifitas dunia yang melalaikan kita. Dia senantiasa mengajak kita untuk menyongsong dan meraih Kesuksesan dengan segera, Hayya 'Alas sholah Hayya 'Alal Falah.
Saudaraku, dengan sholat mari kita raih kesuksesan. Wasta'iinu bis sobri was sholah...
akhirnya Tiada Kata Lelah untuk Menggapai Taqwa
”Jangan padamkan Cetoeh Dasyat itu”

Abi …abi…mo’ cekolah…abi…kata-kata itu merupakan kata dasyat bagi saya. Dasyat, karena dalam kata-kata tersebut adalah spirit pemburu ilmu sudah tertanam sejak dini walaupun hanya celoteh seorang anak 2 tahunan. Namun, saya menghargai dan apresiasi, tinggal nanti bagaimana langkah sekanjutnya untuk menjaga dan mengarahkan spirit tersebut untuk lebih menjadi DASYAT.
Kunyalakan ”kuda besi” kugendong dengan gendongan sang buah hati tercinta berjalan-jalan, melihat lihat menuju sebuah sekolah di sekitar rumah. Berhenti di depan salah satu sekolah kutanyakan pada sng buah hati, ”Faza,...mau sekolah?” ,”cekolah...bi cekolah...” ini cekolah faza....”tuturnya punuh manja, ”sekolah di sini ya, mau?”kataku. ”mau abi,...mau..cama kaka Naia (kakak sepupu:Naila)...”jawab faza.
Memang, anak saya baru berusia 2 tahunan. Namun, semangat itu harus dijaga, semangat itu harus dipelihara dan diarahkan, semangat itu jangan sampai padam terkalahkan berjuta acara televisi yang melenakan, berjuta games-games yang bertebaran menghasut nilai-nilai dasyat dan menanamkan benih kemalasan.
Faza panggilan sayang untuk anakku dengan harapan menjadi orang yang Sukses penuh keDASYATan. Sukses Dunia, Sukses Akhirat. ”Innalil muttaqiina Mafaaza”
Sepucuk “Hidayah” Buat Seorang Sahabat
Dakwatuna
Oleh: Aidil Heryana, S.Sosi
Kirim
dakwatuna.com - “Celakalah Khalid. Semoga tuhan Romawi melaknatnya.” Sumpah serapah itu keluar dari mulut Argenta seraya menarik tali kekang kudanya meninggalkan medan perang yang masih berdebu. Samar-samar terlihat ribuan tentara Romawi mulai mengambil langkah seribu.
Argenta masih terengah-engah menahan lelah setelah seharian bertempur. Jiwanya masih terguncang menghadapi kenyataan pahit kekalahan pasukannya, ditambah lagi sebuah peristiwa tragis masih membekas di pelupuk matanya. Ketika Argenta harus menyudahi duel mautnya melawan orang yang selama ini amat disegani, seorang jenderal, panglima perang sekaligus seorang sahabat yang selama ini menjadi atasannya. Gregorius Theodorus, panglima Romawi yang menjadi muslim tewas di ujung pedang bawahannya sendiri, Argenta.
“Lari, ini instruksi Kaisar Heraklius!!! Kita harus mundur ke Armenia. Berlindung dengan pasukan panah.” Margiteus resah. Topi besi yang menutupi kepalanya melorot sepertiganya. Upaya evakuasi itu sungguh melelahkan.
“Apa yang terjadi dengan Gregorius?”
“Dia sudah mati.”
“Oh, malang benar orang itu.”
Dia seorang muslim,” imbuh Margiteus getir sambil mengusap-usap pedang panjangnya.
“Hah, mustahil. Mana mungkin! Dia seorang Kristiani yang taat.”
“Aku telah membunuhnya.” Argenta terduduk lesu
“Cuma aku kesal dan menyesal, kenapa bisa seorang panglima ulung yang pernah dimiliki bangsa Romawi harus mati di ujung mata pedangku.”
“Siapa yang akan menggantikannya?”
“Wardan.”
“Hah!!? Orang itu tahu apa tentang perang!” Argenta merasa sangat kecewa.
“Dia veteran perang wilayah tengah dulu. Kaisar Heraklius yang memberi restu.”
“Bodoh benar! Kenapa posisi strategis diberikan kepada veteran yang sakit. Orang itu tahunya cuma bagaimana bisa kabur. Si Pengecut itu mana mungkin mampu menahan gempuran pedang orang Islam.”
Bunga-bunga api terpecik dari ranting kering yang coba disulut Argenta. Bara api menjalar-jalar hampir menyentuh sepatu kulit lembunya yang berdebu tebal.
“Kita pernah menaklukkan sepertiga dunia. Tapi kita kalah dari orang-orang Khalid yang berperang tanpa baju besi. Ini salah siapa? Merekakah yang kuat atau kita terlalu lemah!?”
“Mereka tak takut mati. Mereka menyukai mati seperti halnya kita menyukai hidup ini.”
“Kau pernah melihat Khalid.”
“Pernah. Dua kali. Pertama sewaktu aku melakukan tugas pengintaian di Parsi. Kedua saat dia bertarung dengan Gregorius sebelum dia memeluk Islam.”
“Berjanjilah atas kebenaran wahai sahabatku, Margiteus. Apakah begitu gagah manusia bernama Khalid itu?”
“Pernahkah kau mendengar cerita para tentara Romawi mengenai kegagahan Khalid.” Margiteus tersenyum getir. Dia menghela nafas, lesu sambil melempar pandangan jauh ke gugusun bintang-bintang yang menghias cakrawala.
Argenta mengerutkan keningnya. Rasa ingin tahunya menyelinap ke seluruh penjuru batok kepalanya. Menumbuhkan tanda tanya.
“Tuhan mereka telah menurunkan sebilah pedang dari langit kepada Nabi Muhammad lalu diserahkannya kepada Khalid. Dan setiap kali Khalid menarik pedangnya dia menjadi perwira tidak terkalahkan. Tiada lawan yang dapat mengalahkannya sehingga mendapat gelar ‘Pedang Allah’ dari Nabinya.”
Argenta terpana sendirian. Kagumnya menelusup mendengar cerita-cerita yang selama ini menjadi gunjingan teman-teman seperjuangannya. Malah menjadi igauan para kaisar di imperium Romawi.
Bagaimanakah para tentara Parsi yang berbesi pemberat di kaki, agar mereka tidak lari dari medan perang, namun bisa hancur luluh oleh pasukan Khalid? Dia telah menguasai jalur perniagaan di kota Tadmur dan menguasai Qaryatain di wilayah Homs. Kemudian satu persatu wilayah Syria jatuh ke tangan mereka. Hawarin, Tsaniat-Iqab dan Busra. Semua lebur. Porak poranda. Hancur. Pasukan semut menumpaskan bala tentara gajah. Musibah apakah yang tengah menimpa imperiumku ini?
“Pedang Allah, dongengmu memang hebat. Mungkin hanya aku seorang dari ribuan pejuang Romawi yang tidak mempercayainya.” Ketus Argenta menahan amarah. Margiteus sudah bangun dari tidurnya, dia menyarungkan pedangnya ke sisi kuda perang yang tengah asyik memamah santapan rumput hijau. Margiteus tampak lesu. Mungkin sesuatu yang berat sedang dipikirkan. Episode perang esok, entah apa yang akan terjadi?
***
Perang di bumi Yarmuk bertambah hebat tatkala masuk hari kedua. Ada prestise yang perlu dipertahankan. Pasukan perang Romawi sekuat tenaga mempertahankan Syria, wilayah kekuasaannya di sebelah timur. Sementara para pejuang Islam membawa misi membebaskan Syria dari cengkeraman pejajahan Romawi di samping tugas berat menyebarkan dakwah Islamiah.
Khalid dengan lantang menggelorakan semangat jihad. Semangat jihad yang bagaikan suatu keajaiban telah dapat mengalahkan 240.000 pasukan Romawi walau hanya dengan kekuatan 39.000 tentara Islam yang berani berkorban demi agama mereka.
Argenta menjadi gentar dan seperti tak bernyali lagi menghadapi kehebatan tentara Islam yang terus menggempur, menyerbu dan merangsek bagaikan air bah yang pantang surut. Namun bukan berjiwa ksatria namanya kalau harus menerima begitu saja kenyataan pahit itu. Tatkala Argenta merasakan ada titik-titik kelemahan dari tentara Islam disitulah upaya serangan balik dilakukan. Mereka menghantam sayap kiri dan sayap kanan barisan kaum muslimin. Sementara pertempuran semakin memanas, Margiteus seperti tak terlihat kehadirannya di sana, dia lenyap dalam hiruk pikuk Yarmuk.
“Wahai tentara Romawi, rekan-rekanku pembela kaisar yang setia. Perang ini adalah perang tanding satu tentara Khalid lawan enam pasukan Romawi. Kalian bukan anak-anak Romawi kalau mati di tangan mereka yang sedikit dan lemah itu.” Argenta meniup semangat pasukannya.
Medan pertempuran semakin bergolak, kepulan debu, dentingan pedang seakan tak pernah berhenti. Sesekali terdengar jeritan satu dua tentera meregang nyawa, dalam erangan panjang yang memilukan. Ya! Perang memang sesuatu yang kejam, seperti tak ada ruang untuk diberi belas kasihan. Benarlah, dalam perang rasa kemanusiaan seakan sudah mati!
“Kaisar Heraklius melarikan diri ke Constantinople.” Teriak salah seorang tentara Romawi di tengah berkecamuknya perang itu. Laungan teriakan itu timbul tenggelam seakan ditelan kalutnya pertempuran, nyaris tidak diketahui dari mana asal suara itu. Hal ini menjadi hantaman dahsyat yang meredupkan semangat juang para tentara Romawi. Seorang Kaisar merangkap panglima tertinggi melarikan diri! Tragis!!! Suatu tindakan sangat pengecut, setidaknya itu yang ada di benak Argenta.
Dampaknya mulai terasa, luar biasa. Tentara Romawi mulai gentar. Mereka tidak lagi memiliki garis komando di medan tarung itu. Daya tempur merosot drastis. Mereka mulai berhitung bila melanjutkan perang, nyawa melayang atau menjadi tawanan tentara Islam. Akhirnya banyak diantara mereka yang memilih undur diri. Nyawa lebih penting!
“Bukan kaisar saja yang begitu. Semua panglima sama saja. Membiarkan tentaranya bertempur di barisan depan. Sementara mereka mengambil posisi di barisan belakang. Mereka dapat dengan leluasa melarikan diri. Mengapa mereka menjadi penakut seperti itu. Ingat! Kita berjuang demi Romawi dan diri kita sendiri. Bukan demi Kaisar.” Argenta memprotes semangat pasukan Romawi yang mulai luntur.
“Jangan coba-coba durhaka kepada Kaisar. Kaisar banyak tugas yang harus ditunaikan. Kita dalam keadaan terjepit sekarang. Tidak ada yang mengatur strategi. Apatah lagi mendeteksi taktik musuh dan memompa semangat para tentara. Kita terpaksa mundur juga.” Sergah seorang tentara menegur Argenta yang merasa kecewa. Rasa iba muncul dalam dirinya. Diakui memang sukar mencari tipikal prajurit Romawi sekaliber Argenta kini. Tapi apalah daya, sedangkan Kaisar sendiri melarikan diri. Apalah yang diharapkan para tentara kini, yang mereka tahu hanya menjunjung perintah. Tanpa jati diri yang teguh.
“Perhatian! Perhatian! Tentara Khalid menyerang dari belakang!” Teriakan itu membuyarkan lamunan para tentara Romawi itu. Argenta mulai beringsut dibelakang kuda warna coklat gelap, mencoba membalap kuda tentara tersebut.
“Lihat di medan sana.” Argenta menoleh sambil memastikan letak yang ditunjuk itu. Dari kejauhan peperangan masih berlangsung walaupun tidak sehebat tadi karena banyak tentara Romawi yang sudah melarikan diri. Yarmuk bergolak lagi.
“Kenapa? Ada apa?”
“Lihatlah manusia yang paling di depan di kalangan mereka. Itulah Khalid.” Bola mata Argenta gesit membidik sasarannya. Terekam kegagahan Khalid di kelopak matanya. Khalid sedang melaju dengan kudanya. Paling terdepan dan paling piawai berkuda. Dia menangkis setiap hambatan di depannya sambil melaungkan kalam Allah, mengobarkan jihad para pejuangnya. Dia menebas leher-leher musuh. Baginya tak mengenal kamus mundur atau pun takut. Mengapa tidak ada perwira Romawi seperti dia?”
“Ketua mereka bertempur paling depan tetapi mengapa bukan Kaisarku yang bertempur paling depan. Inikah yang dikatakan pembela rakyat dan penerus imperium Romawi. Kini tidak saja terdengar kebobrokan orang-orang Istana di Eropa, tapi juga semuanya telah menular ke seluruh pelosok dunia. Pemerintahan Tiranik! Pemeras airmata dan darah rakyat. Apakah ini balasan Tuhan kepada imperium Romawi?”
Tanpa sadar air mata Argenta menetes. Inilah perasaan terhina yang baru pertama kalinya dirasakan. Kecintaannya kepada Romawi sangat tinggi. Ketaatannya kepada Kaisar tiada berbagi. Mengapa harus dibayar pengorbanan para tentaranya dengan sikap pengecut para atasannya. Kuda dipacu Argenta secepat-cepatnya. Biarlah kesengsaraan ini harus ditanggung terbang bersama deru angin. Dia pasrah. Samar-samar terlihat kota Damascus berdiri megah. Apakah kota ini sekokoh dulu? Argenta makin terbawa dalam lamunannya.
Pasukan Romawi kalah telak di tangan kaum muslimin. Mereka kehilangan 50,000 orang tentaranya. Rata-rata mereka mencari perlindungan di Damascus, Antokiah dan Caesarea serta ada juga yang turut mabur bersama Kaisar Heraklius ke Constantinople. Pertempuran sehari itu meninggalkan satu catatan buruk dalam sejarah perang Romawi yang sulit dihapus dalam sejarahnya. Mereka harus bertekuk lutut dengan pasukan yang bilangannya jauh kecil dengan peralatan perang yang jauh tertinggal dibanding mereka.
***
Pasukan Romawi semakin terdesak. Kota Damascus dengan mudah jatuh ke pangkuan kaum muslimin. Kota itu diserbu tatkala Raja Jabala IV mengadakan jamuan kelahiran anak lelakinya. Khalid bersama beberapa orang tentara Islam berhasil memanjat tembok kota sekaligus membuka pintu gerbang al-Syarqi dan al-Jabiat. Panglima Vartanius yang mengepalai tentara Romawi di Kota Damascus terpaksa melarikan diri ke Homs bersama sisa-sisa tentaranya. Raja Jabala IV terpaksa mengirim utusan damai dan memilih membayar jizyah kepada kaum muslimin. Argenta melarikan diri ke Antokiah.
“Argenta, ada surat dari sahabatmu, Margiteus,” Seorang lelaki yang telah berumur memberikan sepucuk surat kepada Argenta. Langsung wajah Margiteus membayangi hampir seluruh pikirannya di pagi yang cerah di Antokiah. Bukankah Margiteus sudah ditawan di Yarmuk dulu? Dia masih belum mati?
Argenta,
Sungguh pun surat ini mungkin menimbulkan tanda tanyamu tapi percayalah aku di sini senantiasa sehat dan sentosa di bawah lindungan Allah.
Aku masih hidup. Aku tidak seburuk yang kau gambarkan. Aku diberi makan sebagaimana makanan mereka. Aku tidak dikuliti atau dibelenggu kaki dan tangan untuk diinterogasi. Mungkin dengan inilah menyebabkan aku mengenal Allah swt yaitu Tuhanku dan juga Tuhanmu walau waktunya mungkin sangat singkat.
Sahabatku, aku tidak dalam tekanan. Aku tidak dalam keadaan dipaksa sebagaimana biasa dilakukan pemerintah Romawi yang menyeret paksa rakyat dengan kuda karena menunggak pajak. Ada ketenangan di sini sehingga aku bisa mengenal siapa sesungguhnya diriku, tujuan hidup dan agamaku yang satu. Semuanya jelas dan terbentang indah di benak sanubari ini.
Argenta,
Khalid tidak sekejam yang kau gambarkan. Dia mungkin keras dan garang di medan juang. Tapi dia masih mampu mengulur roti kepada tawanan yang tahu arti menghormati. Raut mukanya tenang menyiratkan keteduhan jiwanya, hal itulah yang membuat siapa saja tidak menyangka kalau dia itu Khalid, panglima Islam paling agung. Percayalah!
Kau ingat juga kan dongeng tentang Khalid? Pedang yang konon diturunkan dari langit. Itu semua dusta. Mungkin itu hanya cerita para penakut yang muncul dari para lawan tarungnya setiap kali berhadapan dengan pedangnya. Pedang Khalid hanya besi yang ditempa seperti pedang lain. Tidak ada yang istimewa. Khalid dahulu juga seperti kita. Dia penentang Islam dan Rasulnya. Setelah mendapat hidayah dia beriman. Gelar Pedang Allah hanyalah doa Nabi Muhammad ke atasnya bahwa dia adalah pedang di antara sekian banyak pedang Allah, terhunus buat menghadapi orang musyrik. Nabi Muhammad mendoakan agar Khalid senantiasa menang di setiap perang yang diikutinya.
Argenta,
Kau tentu bertanya apa yang menyebabkan aku memilih Islam. Bukan saja karena kebenaran ajarannya tetapi karena keluhurannya. Aku bertanya pada Khalid. Bagaimana kedudukanku seandainya aku memeluk Islam dibanding dengan dirinya yang sudah bertahun-tahun memeluk Islam. Jawabannya sama saja di sisi Allah malah mungkin lebih mulia darinya sebaik ungkapan syahadah di bibir dan diyakini di dalam hati. Aku sungguh takjub. Sampai sebegitukah? Tanyaku mana mungkin jadi seperti itu. Kata Khalid dia pernah hidup bersama Nabi dan menyaksikan keajaiban dan petanda keRasulan dan kebenarannya sedangkan orang setelahnya dapat menerima Islam walaupun tidak pernah menyaksikan dan berjumpa dengan Baginda, maka tentunya dia lebih mulia.
Mungkin kau menuduhku sebagai pengagum Khalid. Mungkin tuduhanmu itu benar. Tapi percayalah aku mengagumi perjuangannya bukan jasadnya. Cintanya sangat tinggi kepada Allah dan Rasulnya. Itulah yang membuatnya tidak gentar menghadapi musuh. Dia ingin benar mati di medan perang. Tidak seperti kita yang sungguh takut akan kematian karena kecintaan kepada dunia ini. Aku bertanya-tanya. Kalau begitulah kondisi Khalid. Tentu sungguh agung sekali agama dan pegangan yang dianutnya. Dia setia, jujur, luhur, optimis dan seorang genius perang. Sesuatu yang sukar dicari dalam diri kita sendiri.
Argenta,
Sudilah aku menyeru kepadamu ke jalan kebenaran yang hakiki. Aku tahu selama ini kau dibelenggu ketaatan kepada Romawi. Aku masih sayang akan Romawi seperti juga kau. Islam tidak memisahkan kita dengan Romawi. Islam bukannya milik bangsa Arab. Di sini aku ketemu orang-orang hitam dari benua Afrika yang selama ini kita anggap hanya layak mengangkat tahi para petinggi kita, atasan kita. Di sini segalanya sama lantas inilah yang menyadarkan aku tentang arti kemuliaan insan yang tidak kita temui di Romawi.
Kita tetap sahabat. Agamaku tidak memutuskan rasa kasihku kepadamu. Kau tetap seorang sahabat yang akan ku kenang selagi hayat ini di kandung badan. Cuma aku harap persahabatan ini lebih manis kiranya dapat kau membuka hatimu menerima hidayah-Nya. Semoga Allah menemukan kita, sahabat. Wassalam.
Margiteus
Argenta meremas surat itu di tangan. Ada kepedihan menjalar ke ulu hatinya. Sakit dan perih. Apakah ini benteng egoisme paling tinggi yang berusaha ditahannya atau gelombang pembelotan dari sahabat sejatinya. Argenta mengepalkan tangan membiarkan tulang temulang jarinya berderap.
***
Pasukan Islam menuju utara Syria yang dipertahankan Kaisar Heraklius. Kota Homs jatuh bertekuk lutut sebagaimana pasukan Romawi di Balbek ditumpas abis. Bertempurlah kaum muslimin di kota Aleppo yang terkenal sangat tangguh pertahanannya selama berabad-abad. Allah menolong kaum muslimin dengan kemenangan yang dijanjikan-Nya. Pasukan Romawi akhirnya mundur ke benteng terakhir di Antokiah. Tentara Romawi diperintah membuat serangan habis-habisan mempertahan kota. Mereka digempur habis-habisan oleh pasukan Khalid.
Argenta memerah keringat di medan perang. Dia mengayunkan pedangnya sesuka hati. Tidak berpikir lagi sabetan itu kena musuh atau kawan. Hatinya terbagi dua. Satu sisi terbetik di hatinya kebenaran kata-kata Margiteus tetapi egoismenya masih mengatasi segala-galanya.
“Argenta! Kuasa Allah telah menemukan kita.” Argenta menoleh. Ditatapnya manusia di hadapannya. Gagah dengan (niqob) cadar hitamnya. Darah yang mengalir di sekitar kening menyulitkannya mengenal dengan pasti orang bercadar itu. Pedang berukir matahari menyadarka tanda tanya Argenta.
“Kau Margiteus”
“Apa kabar sahabatku.” Margiteus tersenyum menatap sahabatnya. Argenta merasa terpukul dengan ketenangan yang tergambar di wajah sahabatnya itu. Nampak jelas dia bahagia sekali dengan kehidupannya kini. Penuh keyakinan.
“Pembelot, kau mengkhianati bangsa Romawi,” Argenta berusaha memancung kepala Margiteus. Margiteus tenang menahan diri. Mereka saling beradu pedang. Sesekali pedang mereka bersilang. Margiteus dengan tenang terus mendakwahi sahabatnya.
“Berimanlah kepada Allah, sahabatku. Kau bis berdamai dengan pihak Islam bila bersepakat membayar jizyah kecali bila tidak mampu membayarnya. Kami berjanji akan memberimu perlindungan. Kau tetap menjadi sahabatku. Romawi tetap megah bahkan akan lebih bersinar dengan cahaya Islam.”
“Diam, pembelot!” Argenta naik pitam. Mereka bertarung hingga melelahkan.
“Jangan menipu diri sendiri Argenta. Jangan mendustai hidayah yang Allah turunkan padamu. Apakah akan kau biarkan rasa congkak dan egomu menguasai dirimu?” Margiteus tidak putus-putus mendakwahi.
“Percayalah ucapanku. Kebenaran itu sudah kau temukan dalam dirimu. Cuma kau masih ragu-ragu padahal dia sudah jelas di depan mata. Lihatlah dunia yang kita arungi ini. Adakah karena Romawi megah seperti yang kau banggakan. Adakah karena Romawi yang dibohongi dengan mitos dan kemustahilan menyekat nur ilahi yang ada pada dirimu. Bangunlah sahabat.”
“Tutup mulutmu atau aku akan penggal kepalamu menjadi makanan anjing-anjing Kaisar,” amuk Argenta semakin menjadi-jadi. Dia seakan tengah melawan rasa bersalah yang dipendamnya. Benarkah dia membohongi dirinya. Kalau dia benar mengapa hatinya memberontak. Menjerit meminta kebebasan dan kebenaran. Ah…, aku benci semua ini!
Dalam keadaan termangu-mangu pedang Argenta terdesak ke tepi. Memberi peluang terbuka bagi Margiteus untuk menebas kepala Argenta. Argenta terbeliak memperhatikan mata pedang Margiteus jatuh tepat di hadapan mukanya. Tangan Margiteus menggigil. Dia berusaha mengelak dan ini memberi peluang kepada Argenta mencuri kemenangan. Perut Margiteus ditusuk hingga tembusi ke belakang badannya. Darah memuncraut bersimbah ke muka Argenta. Rasa sesal menjalar merasuki naluri Argenta. Lantas dia merangkul Margiteus yang hampir tersungkur. Kedua-duanya melemah. Lesu.
“Lepaskan saja aku, Argenta. Uhh…. . Bukankah aku pembelot Romawi dan mengkhianati persahabatan kita?”
“Kau dapat memancung kepala aku tadi. Mengapa tidak kau lakukan? Aku lebih rela mati. Aku merasa sungguh bosan dan benci diriku sendiri.”
“Tahukah kau dalam Islam… membunuh seorang manusia itu bagaikan membunuh seluruh umat manusia. Kami dibenarkan membunuh orang yang menentang agama kami secara kekerasan. Itupun kepada yang mengangkat senjata. Tidak boleh terjadi pembunuhan terhadap anak-anak, wanita dan orang tua serta yang uzur…. Ohhh”
“Akulah yang menentang kau dan agamamu. Mengapa kau tidak membunuhku saja.”
“Apakah ada pedang Romawi yang paling berat melainkan pedangku ini. Pedang yang terpaksa aku jauhkan dari leher seorang sahabat sejati. Betapa pedih kau mendustai dirimu, tapi lebih pedih lagi diriku yang memikirkan persahabatan ini. Aku tak mampu menyisihkannya. Aku berdosa terhadap agamaku… Allahhh…”
“Tidak, Margiteus. Agamamu adalah kebenaran yang ku cari. Cuma aku khawatir kau sudah melupakan persahabatan kita. Aku terlalu egois. Aku menipu diriku sendiri! Aku menipu kau wahai sahabat! Maafkan aku.”
“Cukuplah kau tahu betapa dalamnya persahabatan ini. Ingatlah, dalam Islam kemanusiaan itu tidak hilang meskipun dalam peperangan. Kita bertemu karena Allah dan berpisah juga karena-Nya. Kalau kau mengasihiku. Inilah aku yang kau lihat akan mati. Kalau kau mencintai kehormatan dan kemegahanmu semua itu juga akan lenyap dan binasa. Tapi seandainya kau mencintai Allah, Dia sesungguhnya tidak pernah mati ataupun binasa….”
“Sungguh Margiteus. Aku bersumpah dengan nama tuhanmu. Aku beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, Muhammad. Apakah aku akan membohongi diriku lagi di saat kau begini..?”
Margiteus menahan perih luka tusukan pedang di lambungnya. Dirasakannya luka tusukan itu telah menjalar ke seluruh tubuhnya. Dia tersenyum mendengar keimanan Argenta. Perlahan-lahan jasadnya kaku mengiringi lafaz syahadah di mulutnya. Argenta terisak meratapi sahabatnya. Perang dirasanya sunyi. Sepi.
Sumber: Seri Sahabat Nabi, Khalid Al-Walid & Abu Hurairah, K Publishing & Distributors Sdn. Bhd., Kuala Lumpur, 1990
Seribu aja kok
Seribu rupiah bagi sebagaian besar orang bukanlah nominal yang sangat besar bahkan bagi seorang tukang parkir di bilangan Bintaro seribu rupiah adalah nominal yang memang tidak begitu menjadi masalah besar dari suatu peristiwa berikut:
Suatu hari di akhir pekan seorang lelaki muda memarkir motornya di depan salah tempat sentral jasa kantor sebut saja MP. Lelaki itu terlihat membawa amplop besar bewarna coklat sepertinya ia akan mengirimkan amplop tersebut melalui jasa pengiriman yang terdapat dalam pelayanan sentral jasa MP. Namun, tidak beberapa lama Ia keluar dengan masih tetap membawa dan menuju parkir motor. Namun, ia meminta maaf pada sang tukar parkir karena ia hanya memegang uang besar satu-satunya dan belum dapat dipecahkan ke dalam uang kecil karena tidak jadi mengirimkan amplop dan ia mengatakan saya ada urusan penting dan nanti saya akan kembali.
Kurang lebih empat jam telah berlalu tanpa dinyana sang lelaki itu ujug-ujug menyodorkan uang seribu rupiah kepada tukang parkir dan berkata, ”maaf, ini uang yang tadi pak, terima kasih” dengan heran dan sedikit terperangah sang tukang parkir berkata,”wa…lah… pak.. uang seribu aja kok”
Uang seribu aja kok, bukanlah berarti sang tukang parkir tidak butuh uang tersebut namun arti sebuah komitmen dan kejujuran sang lelaki muda yang mengalahkan kebutuhan sang tukang parkir dan keherananya adalah pertanyaan besar yang harus dijawab bangsa ini, terutama para pemimpin bangsa, masih adakah orang-orang yang komit dan jujur???
Suatu hari di akhir pekan seorang lelaki muda memarkir motornya di depan salah tempat sentral jasa kantor sebut saja MP. Lelaki itu terlihat membawa amplop besar bewarna coklat sepertinya ia akan mengirimkan amplop tersebut melalui jasa pengiriman yang terdapat dalam pelayanan sentral jasa MP. Namun, tidak beberapa lama Ia keluar dengan masih tetap membawa dan menuju parkir motor. Namun, ia meminta maaf pada sang tukar parkir karena ia hanya memegang uang besar satu-satunya dan belum dapat dipecahkan ke dalam uang kecil karena tidak jadi mengirimkan amplop dan ia mengatakan saya ada urusan penting dan nanti saya akan kembali.
Kurang lebih empat jam telah berlalu tanpa dinyana sang lelaki itu ujug-ujug menyodorkan uang seribu rupiah kepada tukang parkir dan berkata, ”maaf, ini uang yang tadi pak, terima kasih” dengan heran dan sedikit terperangah sang tukang parkir berkata,”wa…lah… pak.. uang seribu aja kok”
Uang seribu aja kok, bukanlah berarti sang tukang parkir tidak butuh uang tersebut namun arti sebuah komitmen dan kejujuran sang lelaki muda yang mengalahkan kebutuhan sang tukang parkir dan keherananya adalah pertanyaan besar yang harus dijawab bangsa ini, terutama para pemimpin bangsa, masih adakah orang-orang yang komit dan jujur???
GRATIS SEPANJANG MASA
Suatu sore, seorang anak menghampiri ibunya di dapur. Ia menyerahkan selembar kertas yang telah ditulisinya. Setelah sang ibu mengeringkan tangannya dengan celemek. Ia pun membaca tulisan itu dan inilah isinya:
Untuk memotong rumput Rp. 5000
Untuk membersihkan kamar tidur minggu ini Rp. 5000
Untuk pergi ke toko disuruh ibu Rp. 3000
Untuk menjaga adik waktu ibu belanja Rp. 5000
Untuk membuang sampah Rp. 1000
Untuk nilai yang bagus Rp. 3000
Untuk membersihkan dan menyapu halaman Rp. 3000
Jadi jumlah utang ibu adalah Rp. 25000
Sang ibu memandangi anaknya dengan penuh harap. Berbagai kenangan terlintas dalam benak sang ibu. Lalu ia mengambil pulpen, membalikkan kertasnya. Dan inilah yang ia tuliskan:
Untuk sembilan bulan ibu mengandung kamu, gratis
Untuk semua malam ibu menemani kamu, gratis
Untuk membawamu ke dokter dan mengobati saat kamu sakit, serta
mendoakan kamu, gratis
Untuk semua saat susah dan air mata dalam mengurus kamu, gratis
Kalau dijumlahkan semua, harga cinta ibu adalah gratis
Untuk semua mainan, makanan, dan baju, gratis
Anakku… dan kalau kamu menjumlahkan semuanya,
Akan kau dapati bahwa harga cinta ibu adalah GRATIS
Seusai membaca apa yang ditulis ibunya, sang anak pun berlinang air mata dan menatap wajah ibunya, dan berkata: "Bu, aku sayang sekali sama ibu" ia kemudian mendekap ibunya. Sang ibu tersenyum sambil mencium rambut buah hatinya."Ibupun sayang kamu nak" kata sang ibu.
Kemudian sang anak mengambil pulpen dan menulis sebuah kata dengan huruf-huruf besar sambil diperhatikan sang ibu: "LUNAS"
======
sahabat, seberapapun jasa yang tlah kita berikan kepada ibu, seberapapun uang yang kita dapatkan dan kita berikan kepada ibu, atau seberapapun liter keringat kerja yang kita kumpulkan untuk ibu, tidak akan dapat mengganti kasih sayang seorang ibu.Kasih ibu sepanjang
masa. dapatkah kita menukar kasih sayang ibu itu dengan materi? menukar dengan bilangan angka?atau menukar dengan rangkaian kata terima kasih sepanjang Salatiga - Roma? Tidak sahabat, sama sekali tidak bisa. Oleh karenanya sahabatqu, Berbuat baiklah kepadanya, sayangilah beliau, cintailah beliau, dan doakanlah beliau….
Sahabat, kita beruntung masih diberi kesempatan untuk mencium tangannya, mencium pipinya, memijit kakinya, membuatkan minuman untuknya dan menunjukkan sayang kita kepadanya.semoga kita dapat
terus melayani beliau, di dunia ini, maupun di surga nanti. amin…
Untuk memotong rumput Rp. 5000
Untuk membersihkan kamar tidur minggu ini Rp. 5000
Untuk pergi ke toko disuruh ibu Rp. 3000
Untuk menjaga adik waktu ibu belanja Rp. 5000
Untuk membuang sampah Rp. 1000
Untuk nilai yang bagus Rp. 3000
Untuk membersihkan dan menyapu halaman Rp. 3000
Jadi jumlah utang ibu adalah Rp. 25000
Sang ibu memandangi anaknya dengan penuh harap. Berbagai kenangan terlintas dalam benak sang ibu. Lalu ia mengambil pulpen, membalikkan kertasnya. Dan inilah yang ia tuliskan:
Untuk sembilan bulan ibu mengandung kamu, gratis
Untuk semua malam ibu menemani kamu, gratis
Untuk membawamu ke dokter dan mengobati saat kamu sakit, serta
mendoakan kamu, gratis
Untuk semua saat susah dan air mata dalam mengurus kamu, gratis
Kalau dijumlahkan semua, harga cinta ibu adalah gratis
Untuk semua mainan, makanan, dan baju, gratis
Anakku… dan kalau kamu menjumlahkan semuanya,
Akan kau dapati bahwa harga cinta ibu adalah GRATIS
Seusai membaca apa yang ditulis ibunya, sang anak pun berlinang air mata dan menatap wajah ibunya, dan berkata: "Bu, aku sayang sekali sama ibu" ia kemudian mendekap ibunya. Sang ibu tersenyum sambil mencium rambut buah hatinya."Ibupun sayang kamu nak" kata sang ibu.
Kemudian sang anak mengambil pulpen dan menulis sebuah kata dengan huruf-huruf besar sambil diperhatikan sang ibu: "LUNAS"
======
sahabat, seberapapun jasa yang tlah kita berikan kepada ibu, seberapapun uang yang kita dapatkan dan kita berikan kepada ibu, atau seberapapun liter keringat kerja yang kita kumpulkan untuk ibu, tidak akan dapat mengganti kasih sayang seorang ibu.Kasih ibu sepanjang
masa. dapatkah kita menukar kasih sayang ibu itu dengan materi? menukar dengan bilangan angka?atau menukar dengan rangkaian kata terima kasih sepanjang Salatiga - Roma? Tidak sahabat, sama sekali tidak bisa. Oleh karenanya sahabatqu, Berbuat baiklah kepadanya, sayangilah beliau, cintailah beliau, dan doakanlah beliau….
Sahabat, kita beruntung masih diberi kesempatan untuk mencium tangannya, mencium pipinya, memijit kakinya, membuatkan minuman untuknya dan menunjukkan sayang kita kepadanya.semoga kita dapat
terus melayani beliau, di dunia ini, maupun di surga nanti. amin…
SUPER INTENSIF RAMADHAN
assalamu alaikum sahabat,
sahabat, pernahkah kita menghitung berapa lama sudah kita telah melewari Ramahan penuh berkah???, pernahkah kita bertanya apakah kita telah meraih Ketaqwaan sebagaimana tujuan shaum Ramadhan dijalankan???
sahabat, hari demi hari, bulan berganti bulan dan tahun pun mengulangi bulan Ramadhan pada bulan kesembilannya. namun, pernahkah kita berpikir mendalam apakah tiap tahunnya di bulan Ramadhan kita benar-benar telah meraih ampunan dari sang Khaliq Allah Azza wa Jalla. pernahkah kita mengingat bahwa Sang Qudwah Rasulullah pernah mengamini malaikat Jibril di saat Ia berdoa dan Rasulullah akan naik ke mimbar untuk memberikan khutbahnya. salah satu doa yang diamini Rasulullah adalah Celakalah orang yang tidak diampuni dosanya di mana Ramadhan datang dan pergi silih berganti.
sahabat, saat sebagian dari kita memiliki tujuan meraih PTN pavorit di negeri ini mereka rela dan semangat untuk mengikuti segala bentuk persiapan, salah satunya adalah super intensif. namun, berapa banyak orang yang ingin meraih Syurganya tetapi bersantai-santai tanpa rasa khawtir dan pede yang tinggi. Ramadhan adalah jawaban bentuk Harap sekaligus Khawatir kita untuk meraih syurga melalui training ketaqwaan.
sahabat, Selamat Mengejar impian, Selamat mengejar Syrga, Selamat mengikuti Super Intensif Ramadhan
sahabat, pernahkah kita menghitung berapa lama sudah kita telah melewari Ramahan penuh berkah???, pernahkah kita bertanya apakah kita telah meraih Ketaqwaan sebagaimana tujuan shaum Ramadhan dijalankan???
sahabat, hari demi hari, bulan berganti bulan dan tahun pun mengulangi bulan Ramadhan pada bulan kesembilannya. namun, pernahkah kita berpikir mendalam apakah tiap tahunnya di bulan Ramadhan kita benar-benar telah meraih ampunan dari sang Khaliq Allah Azza wa Jalla. pernahkah kita mengingat bahwa Sang Qudwah Rasulullah pernah mengamini malaikat Jibril di saat Ia berdoa dan Rasulullah akan naik ke mimbar untuk memberikan khutbahnya. salah satu doa yang diamini Rasulullah adalah Celakalah orang yang tidak diampuni dosanya di mana Ramadhan datang dan pergi silih berganti.
sahabat, saat sebagian dari kita memiliki tujuan meraih PTN pavorit di negeri ini mereka rela dan semangat untuk mengikuti segala bentuk persiapan, salah satunya adalah super intensif. namun, berapa banyak orang yang ingin meraih Syurganya tetapi bersantai-santai tanpa rasa khawtir dan pede yang tinggi. Ramadhan adalah jawaban bentuk Harap sekaligus Khawatir kita untuk meraih syurga melalui training ketaqwaan.
sahabat, Selamat Mengejar impian, Selamat mengejar Syrga, Selamat mengikuti Super Intensif Ramadhan
Raih Keberkahan
Saudaraku, kata orang Hidup adalah pilihan. namun sadarlah Konsekuensi dari pilihan yang telah kita ambil BUKAN lah PILIHAN. suka atau tidak, iklash atau tidak, menerima ataupun tidak, KONSEKUENSI dari PILIHAN akan mengikuti PILIHAN tersebut. saat kita memilih menjadi TAQWA konsekuensi logisnya Syurga menanti diri kita begitupun saat kita memilih FUJUR maka Nerakapun telah siap menanti.
Saudaraku, Mari jadikan hidup lebih berarti karena hidup kita hanya sekali
Saudaraku, Mari jadikan Hidup lebih bermakna karena Hidup tak kenal siaran Tunda
Saudaraku, Mari jadikan hidup lebih berarti karena hidup kita hanya sekali
Saudaraku, Mari jadikan Hidup lebih bermakna karena Hidup tak kenal siaran Tunda
Langganan:
Postingan (Atom)